Assalamu’alaikum Wr.Wb
Hmm.. mari kita mulai diskusi cinta ini dengan membaca basmalah.
Bismillahirrahmanirrahiim…
Laila Majnun. Sederhana saja, setiap orang punya sesuatu yang sangat ia cintai, baik itu harta, kedudukan (tahta) dan wanita ( 3ta ). Tapi tarbiyah diri akan menjadi penentu nantinya bagi penempatan diri terhadap khatir (gerak hati) yang ada. Qays dalam hal ini psikisnya tidak kuat dalam kehilangan cinta laila lalu menjadi gila (majnun). Sebenarnya ini persoalan biasa dan wajar. Dalam kehidupan, tidak hanya karena cinta laila orang bisa menjadi majnun, saudara operator dipabrik juga mengalami gangguan jiwa disaat ia menabrak orang dan orang itu meninggal dunia seketika. Dia schok dan akhirnya gila (majnun). Tapi karena “cinta” adalah kata yang murah untuk dieksploitasi dan dikomersialkan maka pilhan kata “cinta” menjadi mudah untuk booming. Sehingga hris berkesimpulan, roman ini sia-sia untuk dibaca. Menghabiskan waktu hanya untuk membaca kisah hidup cinta orang gila. Padahal orang gila sudah keluar dari taklif (kewajiban2) syara’. Sehingga wajar hidupnya serampangan karena toh tidak ada haram halal dan tidak ada beban dosa dan pahala. Sehingga wajar berbakti kepada kedua orangtuanya ia tinggalkan. Sehingga juga wajar kehidupan beramal dan beribadah luluh dibawah bayangan cinta laila. Yang tidak wajar adalah menganggap ini manifestasi cinta sebenarnya bahkan cenderung mengadopsi sifat dan tindak tanduk majnun “hatta” itu sampai kata-kata puitisnya untuk menjadi standarisasi perjalanan cinta yang mendalam dari seorang ke seorang yang dicintainya. Aneh! Sibghoh yang tidak berlogika.
Tapi jujur…dulu hris pun pernah mengalaminya. Tapi udah sembuh ( Hayoo yang beneer ? ). Tapi memang dahulu sangat dahsyat. Ada banyak puisi yang dibuat khusus untuknya. Tiap diktat, modul, buku kuliah pasti ada rangkaian kata namanya. Setiap curhat pasti selalu terselip namanya disitu. Tapi tarbiyah berkelanjutan menuntun hris u/sadar agar tidak harus selamanya menderita menjadi majnun. Dan Allah SWT memberi buah yang manis dari doa hris yaitu ‘dia’ yang didamba [ 7 tahun setia menanti Bo’ ]. Takdir akhirnya mencari jalannya sendiri walau akal yang beranalisa dan hati yang meraba, sudah “hopeless” untuk pupus mendapatkannya.
Lho kok jadi curhat sih ?! Af1…ayo kita lanjutkan lagi. Bagi hris cinta itu ibarat cahaya putih tapi bila ia dijabarkan disebuah prisma maka terurailah ia menjadi warna merah,biru,hijau dan pink (he..he..). Cinta Allah adalah yang utama…cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) dan dari cahaya inilah cahaya-cahaya lain terbentuk. Nah dari sinilah terdefinisikan maratibul cinta. Ada cahaya cinta kepada Rasul, ada cahaya cinta kepada ibu bapak, ada cahaya cinta kepada pasangan dan saudara. Tapi itu semua harus ber-ruh-kan kecintaan kepada Allah SWT, karena semua cahaya itu bersumber dari satu cahaya. ( Baca: Aku mencintaimu karena Allah)
Harusnya bagi orang yang ketarbiyah dengan baik, dalil Al_qur’an dan Sunnah sudah cukup bagi dirinya untuk berlindung diri dari ranting cinta yang rapuh untuk dijadikan pijakan, agar nantinya tidak menjadi majnun dihadapan 3ta yang pada hakikatnya akan fana. Firman Allah SWT.
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri ( Al-Hadiid:23)”.
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” ( Al-Baqarah:165 ). Wabillahi taufik
Selasa, 14 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar